HARGAI CINTA, KARENA KITA MERASA CINTA BERHARGA KETIKA CINTA TELAH TIADA

Saturday, 12 May 2012

RISIKO AUDIT




1.      Risiko audit dibagi menjadi 2, yaitu:
a)      risiko audit keseluruhan berkaitan dengan laporan keuangan sebagai keseluruhan. Audit keseluruhan merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal kenyataannya, laporan keuangan itu berisi salah saji material.
b)      risiko audit individual berkaitan dengan setiap saldo akun individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Risiko audit individual perlu ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat penting karena besar saldonya dan/atau frekuensi transaksi perubahannya.

2.      Unsur-unsur risiko audit:
a)      Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain.
b)      Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi sacara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko ini ditentukan oleh efektifitas kebijakan dan prosedur pengendalian intern untuk mencapai tujuan umum pengendalian intern yang relevan dengan audit atas laporan keuanagan entitas. Risiko pengendalian tertentu akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern.
c)      Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi ditentukan oleh efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor. Risiko ini timbul sebagai karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi,dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada, walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%.

3.      Risiko audit 5%, risiko bawaan 70%, risiko pengendalian 40%.
a)      Risiko deteksi =
=  = 0,18 atau 18%
b)      Manfaat perhitungan risiko deteksi dalam perencanaan audit yaitu dapat digunakan oleh auditor dalam memutuskan jumlah bukti audit yang dikumpulkan oleh auditor dalam audit atas akun sediaan. Jika teknik statistical sampling digunakan oleh auditor, risiko deteksi sebesar 18% tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh audir dalam penentuan ukuran sampel. Jika auditor menggunakan non-statistical sampling, auditor akan memilih risiko deteksi yang lebih tinggi dan oleh karena itu, ia akan membatasi pengujian yang dilakukan terhadap akun sediaan.

4.      Perbedaan antara risiko bawaan dan risiko pengendalian dengan risiko deteksi adalah risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern. Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi sacara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

5.      Hubungan antara risiko bawaan, risko pengendalian, risiko deteksi, dan risiko audit adalah risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada, terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audir dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian. Semakin kecil risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini oleh auditor, semakin besar risiko deteksi yang dapat diterima. Sebaliknya, semakin besar risiko bawaan dan risiko pangendalian yang diyakini oleh auditor, semakin kecil tingkat risiko deteksi yang dapat diterima. Komponen risiko audit ini dapat ditentukan secara kuantitatif, seperti dalam bentuk persentase atau secara nonkuantitatif yang berkisar, misalnya, dari minimum sampai maksimum.

6.      Strategi awal yang dipilih auditor dalam perencanaan audit atas asersi individual atau sekelompok asersi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah:
a)      Pendekatan trutma substantif. Dalam strategi ini, auditor mengumpulkan semua atau hampir semua bukti audit dengan menggunakan pengujian substantif dan auditor sedikit meletakkan kepercayaan atau tidak mempercayai pengendalian intern. Pendekatan ini biasanya mengakibatkan penaksiran risiko pengendalian pada tingkat atau mendekati maksimum.
b)      Pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah. Dalam pendekatan ini, auditor meletakkan kepercayaan moderat atau pada tingkat kepercayaan penuh terhadap pengendalian, dan sebagai akibatnya auditor hanya melaksanakan sedikit pengujian substantif.

7.      Dalam mengembangkan strategi audit awal untuk suatu asersi, auditor mempertimbangkan 4 faktor, yaitu:
a)      Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
b)      Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
c)      Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
d)     Tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.

8.      Perbedaan antara 2 strategi audit awal:
Pendekatan terutama substantif
Pendekatan risiko pengendalian intern
1.      Auditor merencanakan taksiran risiko pengendalian pada tingkat maksimum atau mendekati maksimum.
1. Auditor merencanakan taksiran risiko pengendalian pada tingkat moderat atau tingkat rendah.
2.      Auditor merencanakan prosedur yang kurang ekstensif untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern.
2. Auditor merencanakan prosedur yang lebih ekstensif untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern.
3.      Auditor merencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
3. Auditor merencanakan pengujian pengendalian secara luas.
4.      Auditor merencanakan akan melakukan pengujian substantif secara luas.
4. Auditor merencanakan akan membatasi penggunaan pengujian substansif.



klik http://adf.ly/IohNb for more interesting... ^^

No comments: